Pelajaran Sex Dari Bu Sony

Bokep JepangAugust 31, 2018

FilmBokepJepang – Sebenarnya saya malu untuk menulis cerita seks ini, tetapi karena sudah banyak yang menggunakan media ini untuk memasukkan cerita-cerita tentang seks meskipun saya sendiri tidak yakin apakah itu adalah seks atau fiksi belaka. 

Tapi saya beranikan juga menulis cerita seks disini, memang cerita yang saya tuliskan ini cukup memalukan tetapi di samping itu ada kejadian yang lucu dan memang sama sekali belum pernah saya alami. 

Awal mula dari cerita seks ini adalah membuat saya baru saja tinggal di sebuah daerah perumahan yang relatif baru di daerah kota-maaf, nama daerah itu tidak saya sebutkan mengingat untuk menjaga nama baik dan harga diri keluarga terutama suami dan kedua anak saya. Saya tinggal di situ baru sekitar 6 bulanan. 

Oleh karena itu, jumlah rumah yang digunakan untuk rumah masih relatif sedikit tetapi khusus untuk rumah yang sudah lumayan banyak dan ramai. Rata-rata keluarga kecil seperti keluarga saya juga disebut keluarga Berencana, rata-rata hanya memiliki dua anak tetapi juga hanya satu anak saja. 

Sudah seperti biasa jika kita tinggal di daerah baru, saya dengan sengaja untuk banyak bergaul dengan para tetangga bahkan dengan tetangga di blok yang lain. Dari hasil bergaul timbul di antara ibu-ibu di blok daerah rumahku untuk digunakan di dalam dan di setiap rumah pesertanya. 

Saat ini sedang berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang berada di deretan depan rumahku, pemilik rumah yang biasa disebut Bu Soni (bukan nama sebenarnya) dan sudah lebih dari satu tahun tinggal di daerah perumahan ini. 

Bu Soni bisa dibilang ramah, banyak ngomongnya dan senang bercanda dan sampai saat tulisan ini saya buat dia baru memiliki satu anak, perempuan, 8 tahun lalu rumah tangganya sudah 10 tahun tapi sudah 30 tahun. Aku menikah kompilasi masih berusia 22 tahun. 

Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya juga bisa dibilang kecukupan. Setelah acara arisan selesai saya masih tetap asyik ngobrol dengan Bu Soni karena tertarik dengan privasi dan banyak omongnya itu meskipun ibu-ibu yang lain sudah pulang semua. 

Dia kemudian bertanya tentang keluargaku, “Jeng Mar.

Putra-putranya itu sudah berumur berapa, sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya? ”(Jeng Mar adalah nama panggilanku tetapi bukan sebenarnya) tanya Bu Soni kepadaku. 

“Kalau yang pertama 18 tahun dan yang paling ragil itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu, nakalnya wah, wah, waa .. Aah benar-benar, deh. Saya, tuh, suka capek marahinnya. ”

“ Lho, ya, namanya juga anak laki-laki. Ya, biasalah, Jeng. ”

“ Lebih nikmat situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal. ”

“ Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu saja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ. ”

“ Lho, mbok ya suka saja sama emosi. ee .. siapa tahu ada rejeki, si putri tunggalnya itu bisa Punya adik. Situ juga sama guru kan masih sama-sama muda. ”

“ Ya, memperlakukan Jeng. Papanya itu lho, suka susah. Dulu, ya, waktu kami mau memulai berumah tangga untuk mendapat dua saja. Ya, itung-itungegi program pemerintah, toh, Jeng. Tapi nggak tahu lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah tambah asik sama sama kerjaannya. Terlalu sering capek. ”

“ O, itu toh. Ya, mbok beri tahu saja kalau sewaktu-waktu punya perhatian sama keluarga. ‘Kan yang namanya kerja itu juga butuh istirahat. Mbok dirayu lah gitu. ”

“ Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi, ya, tetap susah saja, tuh. Sebenernya ini, lho, Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kalo ‘saya omongin. Tapi Jeng Mar Tentu juga tau dong masalah suami-istri ‘kan. ”

“ Ya, memang. Ya, orang-orang yang sudah seperti ini sudah macem-macem, toh, Bu. Memang Bu Soni ini ada masalah apa, toh? ”

“ Ya, begini Jeng, suami saya itu kalo ‘bergaul sama saya suka cepet-cepet mau rampung saja, lho. Nyamuk yang bernama istri seperti kita-kita ini ‘kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama, toh, Jeng. “

” O, itu, toh. Ingin situ kurang lama merayunya. Mungkin rasanya sebuah model atau sesuatu yang macem-macem, gitu. ”

“ Ya, seperti apa ya, Jeng. Dia itu kalo ‘lagi mau, yang langsung saja. Saya seringnya nggak dirangsang apa-apa. Kalo ‘Jeng Mar, gimana, toh? Eh, maaf lho, Jeng. ”

“ Kalo ‘saya dan suami saya itu saling rayu-merayu dulu. Kalo ‘suami saya yang mulai duluan, ya, dia biasanya ngajak bercanda dulu dan akhirnya menjurus yang ke porno-porno gitulah. Sama seperti saya juga kalau misalnya saya yang mau duluan. “

” Terus apa cuma gitu saja, Jeng. “

” O, ya tidak. Kalo ‘saya yang merayu, biasanya punya saya pegang-pegang. Ukurannya besar dan panjang, lho. Terus untuk lebih menggairahkannya, ya, punyanya itu saya enyot dengan mulut saya. Saya isep-isep. “

” Ii .. Iih. Jeng Mar, ih. Apa nggak jijik, tuh? Saya saja membayangkannya sudah sudah geli. Hii .. ”

“ Ya, dulu waktu pertama kali, ya, jijik juga, sih. Hanya aku yang selalu rajin, kok, membersihkan gituannya, jadi ya lama-lama buat aku nikmat juga. Soalnya ukurannya itu, sih, yang lumayan besar. Saya sendiri suka gampang terangsang kalo ‘lagi ngeliat. Mungkin situ dan kalo ‘ngeliat, wah pasti kepengen, deh. ”

“ Ih, saya belon pernah, tuh, Jeng. Lalu kalo ‘bahaya duluan yang mulai begimana? ”

“ Saya ditelanjangi sampai polos sama sekali. Dia paling suka merema-remas payudara saya dan juga menjilati putingnya dan kadang-kadang lagaknya seperti bayi yang sedang mengenyot susu. ”, Kataku sambil ketawa dan tampak Bu Soni juga tertawa. 

“Habis itu badan saya dijilati dan dia juga paling suka menjilati kepunyaan saya. Rasanya buat saya, ya, nikmat juga dan mungkin saya makin terangsang untuk begituan. Dia juga pernah bilang sama aku kalo ‘buat aku yang lebih nikmat dan aku disuruh meliara baik-baik. ”

“ Ah, tapi untuk yang begituan itu aku dan aku sama sekali belum pernah, lho, Jeng. Tapi mungkin ada privasi untuk dicoba juga, ya, Jeng. Tapi tadi itu masalah yang situ dijilatin punyanya. Rasa enaknya seperti apa, sih, Jeng. ”

“ Wah, Bu Soni ini, kok, seperti kurang pergaulan saja, toh. ”

“ Lho, terus terang Jeng. Memang saya belon pernah, kok. ”

“ Ya, geli-geli begitulah. Susah juga untuk dijelasin kalo ‘belum pernah merasakan sendiri. “Laluempat tertawa. 

Setelah berhenti tertawa, aku bertanya,

“Bu Soni mau tau rasanya kalau gituannya dijilati?”

“Yah, nanti saya rayu, deh, suami saya. Mungkin nikmat juga ya. ”Ucapnya sambil tersenyum. 

“Apa yang perlu saya dulu yang coba?”, Tanyaku sambil bercanda dan tersenyum. 

“Diam!! Jeng Mar ini ada-ada saja, ah ”, sambil tertawa. 

“Ya, biar tidak kaget bercampur dengan badan nanti. Kita kan juga sama-sama wanita. ”“ Wah, kayak lesbian saja. 

Nanti saya jadi ketagihan, lho. Malah takutnya lebih suka sama situ membebaskan sama suami saya sendiri. Aku h! Malu ‘akh. ”, Sambil tertawa. 

“Atau kalo ‘nggak mau gitu, nanti saya kasih tau gimana buat penampilan bulu gituannya biar gabungan situ tertarik. Kadang-kadang bentuk dan penataannya juga mempengaruhi rangsangan suami, lho, Bu Soni. ”

“ Ah, Jeng ini. ”

Ee! Betul, lho. Mungkin bentuk bulu-bulu gituannya Bu Soni penampilannya kurang matang. Kalo ‘boleh saya lihat saja gimana? ”

“ Wah, ya, gimana ya. Tapii .. ya boleh, deh. Eh, tapi saya juga bisa liat donk punyanya situ. Sama-sama donk, ‘kan kata Jeng tadi kita ini sama-sama wanita. ”

” Ya,’ kan saya cuma mau bantu situ bisa buat usaha buat punya anak lagi. ”

” Kalo ‘gitu kita ke kamar saja, deh. Suami saya juga biasanya pulang malam. Yuk, Jeng.

”Lewat sekarang ke kamar Bu Soni. Kamarnya cukup tertata rapi, tempat tidurnya cukup besar dan dengan kasur busa. Di dindingnya ada tergantung beberapa foto.

Bu Soni dan mengungkapkan dan ada juga foto sekeluarga dengan alam yang masih semata wayang. Saya kemudian ke luar biasa untuk telepon ke rumah jika pulangnya adalah telpon karena ada urusan dengan perkumpulan ibu-ibu dan lalu yang menerima suamiku sendiri dan akhirnya dia setuju saja. 

Setelah tinggal di kamar, Bu Soni bertanya kepadaku,

“Bagaimana Jeng? Kira-kira siap? “

” Ayolah. Apa sih kita langsung telanjang bulat saja? ”

“ OK, deh. ”, Jawab Bu Soni dengan tersenyum malu. 

Akhir-akhir ini dimulai dengan satu-persatu dan akhirnya polos lah semua. Bulu kemaluan Bu Soni cukup lebat juga hanya bentuknya keriting dan menyebar, tidak seperti milik yang lurus dan tertata dengan bentuk segitiga ke arah bawah. Lalu aku membayar payudaranya yang tidak terlalu besar,

“Lumayanika, lho, Bu.” Lalu Bu Soni pun langsung membayar payudaraku sambil berkata,

“Sama juga seperti punya Jeng.”

Aku pun minta ijin untuk mengulum kedua payudaranya dan dia langsung menyanggupi. Kujilati kedua putingnya yang berbeda dengan kecoklat-coklatan tetapi lumayan nikmat juga. 

Lalu kujilati secara keseluruhan payudaranya. Bu Soni nampak terangsang dan napasnya mulai memburu. 

“Enak juga, ya, Jeng. Boleh punya Jeng saya coba juga? ”

“ Silakan saja. ”, Ijinku. 

Lalu Bu Soni punakan dan terlihat bahwa dia masih sangat kaku dalam soal seks, jilatan dan kulumannya masih terasa kaku dan kurang begitu sempurna. Mungkin lumayanlah, dengan cara seperti ini tidak langsung sudah menolong dia untuk bisa mendapatkan anak lagi. 

Setelah selesai saling menjilati payudara, Saya tinggal duduk-duduk di tempat tidur tidur biasa yang cukup empuk. Aku kemudian memohon Bu Soni untuk melihat liang kewanitaannya lebih jelas,

“Bu Soni. Boleh nggak saya liat gituannya? Kok bulu-bulunya sempat keriting. Tidak seperti milik saya, lurus-lurus dan lembut.

”Dengan cara itu Bu Soni membolehkan,“ Yaa .. silakan saja, deh, Jeng.

”Aku menyuruh dia,“ Rebahin saja badannya terus tolong kangkangin kebebasan yang lebar. 

”Begitu dia lakukan semuanya terlihatlah daging kemaluannya yang memerah segar dengan bibirnya yang sudah keluar oleh bulu yang cukup lebat dan keriting. 

mm .. Cukup output juga penampilannya. Kudekatkan wajahku ke liang kewanitaannya dan kukatakan kepada Bu Soni bahwa bentuk-bentuk kemaluannya sudah cukup hanya akan menjadi lebih indah pemandangan saat bulunya sering disisir agar lebih lurus dan rapi seperti milikku. 

Lalu kusentuh-sentuh daging kemaluannya dengan tanganku, empuk dan tampak cukup terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Nampak dia adalah orang-orang yang suka menyentuh dan menyentuh,

“Aduh, geli, lho, Jeng.”

“Apa lagi kalo ‘dijilat, Bu Soni. Nikmat, deh. Boleh saya coba? ”

“ Aduh, gimana, ya, Jeng. Saya masih jijik, sih. “

” Makanya dicoba. “, kataku sambil kuelus salah satu pahanya. 

“Mm .. Ya, silakan, deh, Jeng. Tapi saya tutup mata saja, ah. ”Lalu kucium bibir kemaluannya sekali, chuph !! 

“Aa .. Aah.”, Bu Soni mengerang dan terlihat sedang menunggangi badannya. 

Lalu kutanya, “kenapa? Sakit, ya? ”

Jawabnya,“ Geli sekali. ”

“ Saya teruskan, ya? ”Bu Soni pun hanya mengangguk sambil tersenyum. 

Kuciumi lagi bibir kemaluannya berkali-kali dan rasa geli yang dia rasakan membuat kedua lubang bergerak-gerak namun kupegangi kedua pangkal pahanya erat-erat. Badannya bergerinjal-gerinjal, pantatnya naik turun. Uh! Pemandangan yang lucu sekali, aku pun melihat ketawa melihatnya. 

Saya keluarkan lidah dan saya mengirimuhkan ujungnya ke bibir kemaluannya berkali-kali. Oh! Aku semakin terbawa napsu. Kujilati keseluruhan permukaan memeknya, gerakanku semakin cepat dan ganas. Oh, Bu Soni, memekmu nikmaa..aat sekali. 

Aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Semua terkonsentrasi pada pekerjaan menjilati liang kewanitaan Bu Soni. Emm .., Enak sekali. Terus kujilati dengan penuh napsu. Pinggir ke tengah dan gerakan melingkar. Kumasukan lidahku ke dalam celah bibir kemaluan yang sudah mulai dibuka. 

Ouw! Hangat sekali dan cairannya mulai keluar dan terasa di dalam dan di dalam lubang hidungku. Tapi aku tidak peduli, yang sangat berguna Bu Soni semakin lezat dibumbui dengan cairan yang keluar semakin banyak. Kuoleskan ke seluruh permukaan kemaluannya dengan lidahku.

Jilatanku makin licin dan seolah-olah semua makanan yang ku makan pada saat acara arisan tadi rasanya tidak ada apa-apanya. Badan Bu Soni bergerinjal semakin hebat begitu juga pantatnya naik-turun dengan drastis. Dia mengerang lirih,

“aa .. Ah, ee .. Eekh, ee .. Eekh, Jee .. Eeng, auw, oo .. Ooh. Emm .. Mmh. Hah, hah, hah, .. Hah. ”Dan saat mencapai klimaks dia merintih,“ aa .., aa .., aa .., aa .., aah ”, Cairan kewanitaian keluarnya banyak dan deras. 

OK, nampaknya Bu Soni sudah mencapai titik puncaknya. Tampak Bu Soni telentang lemas dan aku tanya,

Bagaimana? Enak? Ada rasa puas? ”

“ Lumayan nikmat, Jeng. Situ nggak jijik, ya. ”

“ Kan sudah biasa juga sama suami. ”Kemudian aku bertanya sembari bercanda,

“ Situ mau coba punya saya juga? ”

“ Ah, Jeng ini. Jijik ‘kan. ”, Sembari ketawa.

“Yaa .. Mungkin belon dicoba. Punya saya selalu bersih, kok. ‘Kan suami saya selalu mengingatkan saya untuk memeliharanya.

”Kemudian Bu Soni misalnya berpikir, mungkin ragu-ragu antar mau atau tidak. Lalu,

“Boleh, deh, Jeng. Tapi saya pelan-pelan saja, ah. Nggak berani lama-lama. ”

“ Ya, ndak apa-apa. ‘Kan mengatakan situ tidak biasa. Betul? Mau coba? ”Tantangku sembari senyum. Lalu dia cuma mengangguk. 

Kemudian aku menelentangkan badanku dan langsung kukangkangkan kedua kakiku agar terlihat liang kewanitaanku yang masih indah bentuknya. Tampak Bu Soni mulai mendekatkan ke liang kewanitaanku lalu berkata,

“Wah, Jeng bulu-bulunya lurus, lemas dan teratur. Pantes tebing selalu bergairah. ”Aku hanya tertawa.

 Tak lama atau aku rasakan sesuatu yang sudah basah buatku. Kepalaku aku angkat dan terlihat Bu Soni mulai berani umpan-nyentuhkan ujung lidahnya ke liang kewanitaanku. Kuberi dia semangat,

“Terus, terus, Bu. Saya merasa nikmat, kok ”. Dia hanya memandangku dan tersenyum. 

Kurebahkan lagi seluruh tubuhku dan kurasakan semakin luas penampang lidah Bu Soni menjilati liang kewanitaan saya. Oh! Aku mulai terangsang. Emm .. Mmh. Bu Soni sudah mulai berani. oo .. Ooh nikmat sekali. Sedaa .. Aap. Terasa semakin lincah gerakan lidahnya.

aku angkat kepalaku dan kulihat Bu Soni sudah mulai tenggelam dalam kenikmatan, rupanya rasa jijik sudah mulai sirna. Gerakan lidahnya masih terasa kaku, tetapi ini sudah merupakan perkembangan.  Syukurlah. Mudah-mudahan dia bisa bercumbu lebih hebat dengan roh nanti. 

Lama-kelamaan lebih nikmat. Aku merintih nikmat, “Emm .. Mmh. Ouw. aa .. Aah, aa .. Aah. uu .. uuh. te .. te .. Rus teruu..uus. ”Bibir kemaluanku terasa dikulum oleh bibir mulut Bu Soni. Terasa dia menciumi kemaluanku dengan bernafsu. Emm .. Mmh, enaknya. Untuk lebih nikmat Bu Soni kusuruh, “Pegang dan elus-elus paha saya. Enak sekali Bu.

”Dengan spontan kedua uang langsung mengayunkan elusannya di pahaku. Dia mainkan sampai pangkal paha. Bukan utama! Sudah sama layaknya aku utama dengan suamiku sendiri. 

baca juga : Menghamili Anak Tanteku

Cerita Lainnya:  Ceritasex Keperawanan Adik Kelasku

Terlihat Bu Soni sudah betul-betul asyik dan sibuk menjilati liang kewanitaanku. Gerakan ke atas ke bawah melingkar ke seluruh liang kewanitaanku. Seolah-olah dia sudah mulai masalah. Kemudian aku suruh dia untuk menyisipkan lidahnya ke dalam liang kewanitaanku. 

Dahinya pun terasa berkerut namun dicobanya juga dengan memasukkan lidah ke antara bibir kemaluan saya. “Aaa .. Aakh! Nikmat sekali. Aku mulai naik untuk mencapai klimaks. Kedua pikiran terus mengelus kedua pahaku tanpa henti. 

Aku mulai naik dan merasakan lubang kemaluanku semakin hangat, mungkin lendir kemaluanku sudah banyak yang keluar. Saya akhirnya mencapai klimaks dan aku merintih, “aa .. Aah, uuh”. Sialan Bu Soni mengobrol masih asyik menjilati sementara badanku sudah mulai lemas dan lelah. Bu Soni pun meminta karena gerak kaki dan badanku berhenti,

“Gimana, Jeng?” Aku berkata lirih sambil senyum kokoh, “Jempolan. 

Sekarang Bu Soni sudah mulai pinter. “Dia hanya tersenyum. Saya tanya lagi, “Bagaimana? Situ masih jijik nggak? ”

“ Sedikit, kok. ”, Jawabnya sembari tertawa, dan akupun ikut tertawa geli. 

“Begitulah Bu Soni. Mudah-mudahan bisa lebih lebih mesra lagi dengan isi, tapi jangan bilang, lho, dari saya. ”

“ Oo .., ya, ndak, toh, Jeng. Saya kan bisa malu. Nanti semua orang tahu bagaimana? ”

” Sekarang yang sangat menguntungkan agar putrinya bisa mendapat adik. Kasihan, lho, mungkin sejak dulu dia mengharapkan seorang adik. ”

“ Ya, mudah-mudahan lah, Jeng. Rejeki akan segera datang. Eh! Ngomong-ngomong, Jeng mau nggak kalo ‘kapan-kapan kita bersama kayak tadi lagi?

“ Naa .., ya, sudah mulai ketagihan, deh. Yaa, itu terserah situ saja. Tapi saya nggak tanggung jawab, lho, kalo ‘situ lantas bisa jadi lesbian juga. Saya ‘kan cuma kasih contoh saja. ”, Jawabku sembari mengangkat bahu dan Bu Soni hanya tersenyum. 

Soal bagaimana kemesraan Bu Soni dan semangat selanjutnya, itu bukan urusan saya tetapi yang penting kelezatan liang kewanitaan Bu Soni sudah pernah aku rasakan. jawabku sembari mengangkat bahu dan Bu Soni hanya tersenyum. 

Kemudian aku cepat-cepat mengoreksi karena ingin segera sampai di rumah, khawatir suamiku curiga dan berprasangka yang tidak-tidak. Waktu aku pamit, Bu Soni masih dalam keadaan bingung di depan kaca menyisir rambut. Untung cerita ini tidak pernah sampai terbuka sampai aku menulis cerita yang aneh dan lucu ini. 

(Visited 198 times, 1 visits today)
Categories
WhatsApp chat